Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Maret 2014

Pendidikan Islam Mampu Didik Jiwa Manusia


Salam kepada semua sahabat, saudara yang memperjuangkan Islam, guru-guru yang tidak jemu-jemu mendidik anak-anak Negara ini. Jasa seorang guru memang besar dan tidak terbalas segala pengorbanan mereka. Guru diibaratkan sebatang lilin yang membakar dirinya untuk menerangi alam kegelapan. Kerjaya sebagai guru memerlukan kekuatan mental dan fizikal untuk mengharungi berbagai liku-liku yang ada dalam kerjaya ini. Jika guru tersebut tidak mempunyai persiapan dan persediaan yang rapi, maka guru tersebut akan mengalami masalah di lapangan pengajaran dan pembelajarannya nanti. Bagi saya kerjaya sebagai guru ini lebih payah dari orang yang mengembala kambing atau lembu, kerana kerjaya guru ini adalah untuk mendidik manusia supaya mempunyai akhlak dan budi perkerti yang luhur, baik dan mahmudah.

Jika pekerjaan hanya inginkan gaji yang lumayan, hanya mencari sesuap nasi, sebagai kerja masa lapang atau seumpama dengannya, maka proses pendidikan tidak akan terjadi dengan berkah dan baik. Kerana dalam Islam memerlukan keikhlasan yang sungguh-sungguh untuk memastikan pekerjaan sebagai guru ini berjalan dengan jayanya dan berjaya membentuk generasi muda mempunyai pengetahuan tinggi dan akhlak yang baik. Jika guru tidak mempunyai keikhlasan yang tinggi dalam kerjayanya, maka proses pendidikan itu tidak akan kemana dan hanya mampu memberikan informasi baru sahaja kepada pelajarnya dan tidak mempunyai keberkatan. Hal ini sedikit sebanyak dapat mempengaruhi akhlak pelajar, jangan heranlah jika pelajarnya rosak budi pekertinya. Jika dikaji dan direnungi, saya berpendapat kerosakan akhlak muda-mudi sekarang ini adalah disebabkan guru tidak mempunyai keikhlasan kerana Allah.

Terfikir saya dengan ilmu-ilmu yang dimiliki oleh ulamak yang terdahulu, kenapa mereka mempunyai ilmu yang banyak dan alim dalam bidang masing-masing. Dilihat dari proses pendidikan mereka memang jauh beza dengan zaman sekarang ini, kerana guru mereka ikhlas dalam mendidik mereka. Cerita dari ustaz saya sewaktu saya di pondok dahulu. Tok guru pondok dahulu tiada gaji dan tiada mengambil upah dalam pengajaran mereka, tinjauan kelapa yang ditanam sekeliling pondoklah, tinjauan padi di sawah yang menjadi pendapatan mereka untuk menyara keluarga mereka. Sedikitpun mereka tidak mengharapkan upah atau ganjaran dari anak murid mereka. Bagi saya inilah punca keberkatan pengajaran guru-guru pondok dahulu sehingga dapat melahirkan ramai ulamak yang ternama dan dikenali ramai.

Selain dari ibu bapa, guru juga merupakan penentu generasi akan datang, sama ada generasi akan datang mempunyai akhlak yang baik atau mempunyai akhlak yang buruk. Guru juga perlu mempunyai akhlak yang mahmudah sebagai pedoman kepada anak murid mereka, supaya anak murid mereka dapat meneladani tingkah laku mereka. Jika mahu menjadi guru yang disanjungi dan di hormati, guru hendaklah mempunyai akhlak yang baik, baik petuturan dengan pelajar, bertanggungjawab dalam setiap ilmu yang disampaikan, peka terhadap pelajar-pelajarnya dan rapat dengan pelajarnya, kerana ini sedikit sebanyak dapat membantu guru membentuk pelajarnya dengan lebih berkesan.

Punca gejala sosial, faktor utama adalah dari ibu bapa pelajar tersebut yang tidak mengambil peduli anak mereka, mereka mengajar anak-anak mereka cukup sekadar dengan wang poket untuk anak mereka berbelanja di sekolah dan sebagainya. Tetapi mereka lupa akan tanggungjawab yang sebenarnya iaitu memberikan perhatian dan pendidikan yang sebenarnya iaitu pendidikan Islam, kerana pendidikan Islam adalah cara yang paling mustajab untuk membentuk akhlak yang baik dan anak tahu perkara yang haram dan perkara yang halal. Faktor yang kedua punca keruntuhan akhlak pelajar adalah guru-guru, jika dilihat dilapangan guru juga tidak mempunyai akhlak yang baik, tidak menutup aurat, bercinta dengan pelajar dan sebagainya. Ada kes terjadi guru melakukan hubungan seks dengan pelajar sehingga ditangkap khalwat. Ini sedikit sebanyak mempengaruhi pelajar, kadang-kadang susah juga guru pendidikan Islam hendak suruh pelajar tutup aurat, kerana bila di suruh tutup aurat pelajar kata “cikgu Pendidikan Jasmani (PJ) atau cikgu BI tak tutup tak apa pun, kami buka aurat tak boleh”.

Ini semua salah siapa? Bagi saya semua salah dalam hal ini, kerana tidak mementingkan pelajaran pendidikan Islam dan tidak diterapkan etika Islam di setiap institusi pendidikan di Negara ini, sebab itulah berlakunya seks bebas, buang anak, rempit, penyalah gunaan dadah, pergaduhan, black matel dan sebagainya. Jika semua melaksanakan prinsip pendidikan Islam dalam sistem pendidikan, maka sedikit sebanyak dapat mengurangkan masalah gejala sosial yang semakin pedas dan semakin parah sekarang ini. Pendidikan Islam terbukti berkesan pada masa utusan Nabi Muhammad saw sehingga dapat menerangi alam ini dari kegelapan maksiat, sehingga dunia ini aman dan tenteram. Semua ini dapat dibersihkan dan dapat dilakukan oleh pendidikan Islam dan syariat Islam sahaja. Jangan tunggu lagi kembalilah kepada syariat dan pendidikan Islam yang sebenar. sumber http://www.ustaznoramin.com/
{ Read More }


Senin, 02 Desember 2013

Sejarah Hari Pendidikan Nasional

Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, itulah slogan yang sering kita dengar di republik tercinta ini. Pahlawan merupakan sosok yang sangat berarti bagi perkembangan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebut saja pahlawan kemerdekaan yang telah berjuang dengan darah, air mata, jiwa, raga serta nyawa hingga kita bisa menghirup udara kemerdekaan seperti sekarang ini. Tanpa jasa mereka yang telah berjuang merebut serta mempertahankan kemerdekaan entah seperti apa negara kita saat ini.


Pahlawan tidak selalu identik dengan mengangkat senjata dan berperang meski sebagian besar penafsiran menyatakan bahwa pahlawan adalah orang yang berjasa membela negara melalui medan perang. Namun sesungguhnya siapa saja yang telah berjasa membawa bangsa ini menuju kemajuan baik dibidang sosial, budaya, teknologi, kesehatan, pendidikan dan lain-lain yang kesemuanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia maka patut kiranya kita beri julukan sebagai pahlawan. Salah seorang yang berjasa memajukan pendidikan di Indonesia adalah Ki Hajar Dewantara. Ia lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 dan diberi nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat yang berasal dari keluarga di lingkungan kraton Yogyakarta.

Saat usianya genap 40 tahun ia berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Sejak saat itu Ki Hajar Dewantara tak lagi menggunakan gelar kebangsawanan Raden Mas di depan namanya, hal ini bertujuan agar ia bisa bebas dekat dengan kehidupan rakyat tanpa dibatasi oleh ningrat dan darah biru kehidupan keraton.

Ki Hadjar Dewantara menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda), kemudian melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) namun karena sakit ia tidak sampai tamat. Ia kemudian menjadi wartawan di beberapa surat kabar diantaranya Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia,  Kaoem Moeda,  Tjahaja Timoer dan  Poesara.  Tulisan-tulisan Ki Hadjar Dewantara pada surat kabar tersebut sangat komunikatif dan tajam sehingga mampu membangkitkan semangat patriotik dan antikolonial bagi rakyat Indonesia saat itu.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiLZZSFcPcnCZmJ_g_3mi6ieNqI8K7GMYAyfVQdEqRZWgJ8oQWjoQ6V5FHc4Xu9TBcgDB_E_Fquoj54-xbpOMdVpVXKMKynYHGyWuHnlaP8IbN4l6tRJgPAZOQ5Pjka1iy9t7gb4Y2YPzw/s320/Perguruan+taman+siswa.jpg

Di usia yang masih terbilang muda disamping kesibukannya sebagai seorang wartawan Ki Hadjar Dewantara juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Ia aktif melakukan propaganda pada organisasi Boedi Oetomo tahun 1908 untuk mensosialisasikan serta menggugah betapa pentingnya persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara kepada masyarakat Indonesia. Pada 25 Desember 1912 bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia.

Karya-karya Ki Hajar Dewantara yang menjadi landasan dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia diantara adalah kalimat-kalimat filosofis seperti "Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri hadayani" yang artinya "Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan" menjadi slogan pendidikan yang digunakan hingga saat ini.

Ki Hajar Dewantara pernah menulis kritikan terhadap perayaan seratus tahun bebasnya Negeri Belanda dari penjajahan Perancis dibulan November 1913 dimana biaya perayaan tersebut ditarik dari uang rakyat Indonesia dan dirayakan ditengah-tengah penderitaan rakyat yang masih dijajah. Akibat kritikan tersebut ia dibuang ke Pulau Bangka oleh Gubernur Jendral Idenburg tanpa melalui proses pengadilan. Namun dua orang sahabatnya yaitu Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo membelanya melalui tulisan sehingga hukuman tersebut diganti menjadi dibuang ke negeri Belanda.

http://blogspot.com

Sekembalinya dari Belanda pada 3 Juli 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan sebuah perguruan bercorak nasional yang bernama Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Dari sinilah lahir konsep pendidikan nasional hingga Indonesia merdeka.

Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Pengajaran Indonesia dalam  kabinet pertama Republik Indonesia. Ia juga mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1957.

Atas jasanya dalam merintis pendidikan umum di Indonesia, Ki Hajar Dewantara dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959 tertanggal 28 November 1959, hari kelahiran Ki Hajar Dewantar yaitu tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa, tepatnya pada tanggal 28 April 1959  Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia di Yogyakarta. Semoga jasanya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa selalu dicatat sebagai amal ibadah yang terus mengalir.

Demikianlah info mengenai  Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei semoga bermanfaat.

Baca juga Loa Loa Filariasis Cacing Yang Hidup Di Mata

sumber:http://planetkentir.blogspot.com/2013/05/sejarah-hari-pendidikan-nasional-2-mei.html
{ Read More }


IconIconIconFollow Me on Pinterest